Normal Mode
Responsive Mode

Harap Tunggu Proses Memuat Konten Halaman


Selamat Datang Di Blog Para Seniman Yang Sederhana Ini, Semoga Membawa Manfa`at Buat Yang Membaca, Amiiiieeennn ^_^

Selasa, 08 Januari 2013






"Syarat yang ketiga, ketika sampeyan selesai keramas malam, sampeyan harus melakukan SHALAT MALAM sebanyak 11 rakaat dan harus dilakukan rutin tiap malam.
2 rakaat shalat taubatan nasuha
2 rakaat shalat Meminta ridho Allah swt
2 rakaat shalat birrul walidain
2 rakaat shalat hajat
3 rakaat shalat witir
Setelah itu duduk membaca wirid ini." Kata pak kyai sambil menyodorkan tulisan yang ditulis dengan abc biasa, tidak ditulis dengan huruf arab.
"Tapi saya gak bisa shalat yang begitu-begituan, tolong minta ditulis sekalian!"
"Tapi sampeyan bisa shalat kan?"
"Bisa pak, di komplek juga ada pengajiannya juga kok!"
"Oo... Begitu." kata pak kyai. "Ya sudah saya tuliskan niat shalat-shalat itu sekalian."

Setelah selesai menulis dan menerima kertas dari pak kyai, si gadis pun pamitan pulang. Si gadis berniat memberikan amplop kepada pak kyai.
"Apa ini.. Bawa pulang saja. Berikan pada ibu dan adik-adik sampeyan. Sampeyan kan kesusahan, tak perlu saya menambah kesusahan sampeyan. Bukankah begitu?"
"Tapi pak kyai..?"
"Gak pakai tapi-tapian. Ibu dan adik-adik sampeyan lebih membutuhkan!"
Si gadis pun pulang ke surabaya malam itu.

Sampai di rumah, ia langsung ke kamar mandi wudlu. Ia ikuti petunjuk pak kyai. Dandan rapi, pakai minyak wangi, kosmetik ia masukkan dalam tas kecilnya. Tak lupa secarik kertas dari pak kyai ia selipkan di dalamnya. Ia pun berangkat kerja.

Tiba di komplek, ia langsung dapat job. Tak tanggung-tangung kali ini kontraktor apartemen membokingnya. Ih mujur amat gue malam ini dapat mangsa kelas kakap, bisiknya.

Setelah tawar menawar harga, akhirnya sepakat, ia dibawa ke sebuah apartemen. Masih di komplek, Dalam hati ia bingung, ketika si hidung belang meraih tangannya. Terpikir olehnya, laki-laki megang tangan saya kan.. waduh.. batal dong wudlu saya..

"Maaf mas, saya mau ke kamar mandi.. bentar saja!"
"Ok.." sahut hidung belang.
Di kamar mandi ia pun wudlu kembali. Sip.. Sekarang saya sudah suci.. Kerja lagi.

Dalam apartemen, ia berkata, "Mas jangan pegang-pegang atau ngapa-ngapain saya ya, nanti wudlu saya batal lagi, saya capek mas bolak-balik ke kamar mandi, nih udah 7 kali saya wudlu."
"Lho saya udah bayar kamu mahal untuk melayani saya. Bukan untuk lihat kamu wira-wiri ke kamar mandi."
"Ya udah.. saya layani mas. Mau kopi, teh atau apa aku buatin mas.."
"Aku mau kamu melayani aku!" Hidung belang mulai marah.
"Untuk yang begituan maaf aja mas, saya gak bisa, saya mau melayani mas, tapi saya gak disentuh, saya gak mau wudlu saya batal."

Akhirnya, berlalulah si hidung belang darinya. Tak sepeser pun uang ia dapatkan. Begitu juga hari-hari berikutnya, tak disangka dirinya begitu laris namun tak satupun lelaki mampu menaklukkannya membatalkan wudlu. Juga tak ada uang ia hasilkan. si gadis semakin bingung dengan dirinya sendiri. Di sisi lain ia butuh uang, tapi di sisi lain ia sudah berkata "SANGGUP" memenuhi persyaratan. Ini pilihan sulit, pilih uang atau menepati janji. Dan ia lebih memilih tidak mendapat uang daripada harus membatalkan wudlunya.

Malam-malam yang ia lewati, ia mandi keramas, shalat malam dan wirid. Dan anehnya, wirid yang ditulis pak kyai untuk ia amalkan cuma SYAHADAT, TASBIH, ISTIGHFAR, SHALAWAT DAN AYAT KURSI yang masing-masing dibaca 11x. Begitu besar pengaruhnya pada gadis WTS ini.

"Kalau tiap hari aku gak dapat uang, bagaimana aku menghidupi ibu dan adik-adikku?
Tapi meski aku gak dapat uang, hatiku bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan.
Sementara aku tak tega lihat ibu jualan sayur keliling...
Ya Allah beri hamba jalan terbaik...

Seminggu berlalu, si gadis kembali datang ke pesantren pak kyai. Ia utarakan semua yang telah ia lakukan.
"Pak kyai.. Apa tidak ada keringanan bagi saya, tentang syarat-syarat itu? Kalau begini saya gak bisa lagi menghidupi ibu dan adik-adik saya lagi..
Kini ibu saya malah jualan sayuran keliling, hati saya merintih dengan semua ini, sementara adik-adik saya mendapat teguran dari BP3 karena tunggakan SPP. Tolong pak kyai, beri saya solusi.."


Bersambung...



(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

Perihal: Diterbitkan oleh: pada pukul 13.25 WIB

Baca Pula Artikel Terkait Dalam Kategori: .

Klik tombol "Like" bila Anda suka dengan artikel ini. Silakan poskan komentar agar saya dapat berkunjung balik ke blog Anda. Jika Anda ingin membaca artikel lain dari blog ini, maka silakan klik di sini untuk membuka daftar isi. Harap menyertakan https://d-syahrul.blogspot.com/2013/01/wts-saba-pesantren-bag-2.html dan atau mencantumkan tautan untuk artikel ini bila Anda menyalin sebagian dan atau keseluruhan isinya. Terimakasih.

Posting Komentar